Dari Kampung ke Kampus: Bertahan Hidup di Serambi Masjid

Di tengah gemerlap narasi kesuksesan mahasiswa di kota besar, ada kisah-kisah sunyi yang jarang mendapat ruang. Kisah tentang mereka yang datang dari kampung, membawa harapan keluarga di pundak, tetapi harus berhadapan dengan kenyataan keras: biaya hidup yang tak bersahabat. Di antara pilihan yang serba terbatas, sebagian dari mereka menemukan “rumah” di tempat yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya—serambi masjid.

Bagi banyak orang, masjid adalah tempat singgah untuk beribadah. Namun bagi mahasiswa perantau dari keluarga sederhana, masjid menjelma menjadi ruang multifungsi: tempat beristirahat, belajar, bahkan menata ulang harapan. Di atas tikar tipis, dengan tas ransel sebagai bantal, mereka mencoba menutup hari yang panjang—hari yang diisi dengan kuliah, mencari pekerjaan sambilan, dan menahan lapar.

Fenomena ini bukan sekadar cerita haru. Ia adalah potret nyata ketimpangan akses pendidikan. Kita sering berbicara tentang pentingnya pendidikan tinggi sebagai jalan mobilitas sosial, tetapi lupa bahwa jalan itu tidak rata bagi semua orang. Anak-anak dari kampung harus berlari lebih jauh, lebih cepat, dan dengan beban yang lebih berat hanya untuk berada di titik yang sama.

Tinggal di masjid tentu bukan pilihan ideal. Ada keterbatasan privasi, kenyamanan, bahkan keamanan. Namun di balik semua itu, tersimpan keteguhan yang luar biasa. Masjid menjadi saksi bisu bagaimana mereka bangun sebelum subuh, menata buku di sudut ruangan, lalu berangkat kuliah dengan pakaian seadanya namun penuh percaya diri. Di antara lantunan ayat suci, mereka merajut mimpi—mimpi untuk mengangkat derajat keluarga, untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya.

Ironisnya, kisah-kisah seperti ini sering luput dari perhatian kebijakan publik. Bantuan pendidikan kerap berhenti pada biaya kuliah, sementara biaya hidup—yang justru lebih menekan—sering terabaikan. Padahal, tanpa tempat tinggal yang layak dan akses kebutuhan dasar, proses belajar menjadi perjuangan yang jauh lebih berat.

Masjid, dalam konteks ini, memang menunjukkan wajah lain dari fungsinya sebagai pusat sosial umat. Ia hadir sebagai ruang inklusif yang terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan. Namun, kita tidak bisa selamanya bergantung pada “kebaikan tak terencana” seperti ini. Harus ada langkah sistematis dari pemerintah, kampus, dan masyarakat untuk memastikan bahwa tidak ada mahasiswa yang harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau sekadar bertahan hidup.

Kampus, misalnya, dapat lebih proaktif menyediakan asrama terjangkau atau program bantuan tempat tinggal. Pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan lembaga sosial untuk menciptakan skema dukungan bagi mahasiswa kurang mampu. Sementara masyarakat, termasuk pengurus masjid, dapat menjadi bagian dari ekosistem kepedulian yang lebih terorganisir.

Lebih dari itu, kita perlu mengubah cara pandang. Mahasiswa yang tinggal di masjid bukanlah objek belas kasihan, melainkan simbol ketangguhan. Mereka adalah representasi dari semangat juang yang sering kita banggakan dalam pidato-pidato seremonial, tetapi jarang kita dukung secara nyata.

Pada akhirnya, serambi masjid bukan hanya tempat berteduh, tetapi ruang di mana harapan dipertahankan. Di sanalah, dalam kesederhanaan yang nyaris tak terlihat, lahir tekad yang mungkin suatu hari akan mengubah nasib sebuah keluarga—bahkan sebuah generasi.

Dan mungkin, ketika kita melihat mereka, kita tidak hanya melihat keterbatasan. Kita melihat masa depan yang sedang diperjuangkan, dengan segala daya yang mereka miliki.

 

Leave a Reply